Critical Review Jurnal “Brazil’s Bolsa Familia: A Double-edged Sword?” Karya Antony Hall

Pendahuluan

 

            Brasil merupakan Negara dengan tingkat permasalahan ekonomi yang kompleks. Selain kehidupan masyarakat yang terkenal akan kriminalitas yang tinggi, selain itu juga berdampak pada angka kemiskinan yang sangat tinggi pula. Berdasar data Wold Bank (2013), dengan populasi berkisar antara 200 juta jiwa membuat Brasil merupakan salah satu Negara yang memiliki populasi penduduk yang besar di dunia. Hal ini berimbas pula pada tingkat masyrakat yang hidup berada di bawah garis kemiskinan. Selain itu brasil juga terkenal dengan beberapa daerah yang kumuh dan juga kehidupan masyarakatnya yang masih banyak memperlihatkan kelaparan dimana-mana.

Oleh sebab itu pada masa ke masa para presiden di Brasil selalu mencanangkan program yang mana mengharapkan para penduduk Brasil keluar dari keadaan yang memprihatinkan. Salah satu presiden yang sangat terkenal bahkan sempat dijuluki “Sintreklass” oleh media barat (Rusdi, 2014), yakni Lula Da Silva (2003 – 2010). Presiden Lula mencanangkan program yang sampai Conditional Cash Transfer atau CCT di Brasil dengan salah satu tujuan untuk menghilangkan atau mengurangi lingkaran setan kemiskinan. Program tersebut sampai saat ini dikenal dengan nama Bolsa Familia (Familia Grant).

Program Bolsa Familia sebenarnya bukan program yang baru yang bernafaskan CCT. Artinya banyak program serupa yang telah berkembang di Negara-negara dunia, khususnya di Negara Amerika Latin yang bertujuan untuk melindungi orang atau masyarkat miskin melaui program perlindungan social tersebut (Barrientos and Hulme, 2008; Hall and Midgley, 2004; ILO, 2006; Rawlings, 2004 dalam Hall 2008). Sebut saja program yang serupa yang pernah dibuat dan dilaksanakan sebelum program Bolsa Familia di Negara-negara Amerika Latin seperti Mexico (Progresa/Oportunidades), Chile (Chile Solidario), Colombia (Familias en Accion), Argentina (Jefes De Hogar), Peru (Juntos), Ecuador (Bono de Desarrolo Humano) dan lainnya.

Program perlindungan social hadir sebagai representasi peran Negara dalam redistribusi kesejahteraan kepada masyarakat atau warga negaranya terutama warga Negara yang kurang beruntung dalam hal ini, seperti salah satunya masyarakat miskin. Pada keadaan tersebut, program perlindungan social atau social security program bertujuan untuk menjamin seluruh warga negaranya dapat mengakses kebutuhan dasar atau barang public yang memang menjadi hak asasi setiap warga negaranya. Kebutuhan dasar atau barang public dalam hakikatnya seharusnya setiap warga negaranya bebas mengakses tanpa bersaing sedikitpun atau dalam pengertian lainnya ialah warga Negara bebas mengakses barang-barang public tersebut tanpa dipungut biaya. Kebutuhan dasar dapat dikategotikan diantaranya seperti pendidikan, pelayanan kesehatan dan masih banyak lainnya. Program perlindungan social juga berusaha untuk menghindarkan monopoli-monopoli barang public oleh beberapa orang saja atau golongan tertentu. Oleh sebab itu, program perlindungan social di Amerika latin khususnya bertujuan untuk mensubsidi di wialayah-wilayah strategis atau key areas seperti kesehatan, pendidikan dan dana pension yang mana dalam realitasnya hal ini telah dimonopoli oleh golongan masyarakat menengah-keatas (Abel and Lewis, 2002). Hal ini dapat kita lihat pula bahwa dalam kenyataan saat ini seakan-akan yang dapat menikmati pendidikan terutama pendidikan tinggi hanyalah masyarakat yang mampu membayarnya saja, artinya telah terjadi pergeseran bahwa pendidikan tidak sepenuuhnya barang public. Selain itu fakta lainnya dapat kita lihat dalam praktek pelayanan kesehatan dalam masyarakat. Bahkan dahulu terdapat kalimat yang seakan-akan untuk sakit saja orang miskin tidak diperbolehkan. Tentunya hal ini dibutuhkan upaya-upaya dari Negara sebagai actor siginfikikan dalam praktek distribusi kesejahteraan.

 Bolsa Familia memiliki maksut dan tujuan yang sama pula dengan social security programs lainnya. Dari awal bolsa familia diharapkan mampu mengentaskan dan mengurangi keadaan keluarga yang kurang mendapatkan akses akan hak-hak sosial mereka. Hak sosial disini pula dapat dikaitkan sebagai kebutuhan dasar yang mana apabila tidak dipenuhi dapat mempengarhui keberlangsungan hidup seorang warga Negara. Dengan sejumlah uang tunai yang di dapatkan diharapkan mampu menambah kapasitas dari masyrakat yang dalam hal ini masyarakat miskin dalam kehidupan sehari-harinya.

Dengan berdasarkan jurnal atau artikel yang ditulis oleh Antony Hall yang berjudul “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword?”., yang menulis dan menjelaskan tentag bagaimana realitas yang terjadi mengenai program perlindungan social di Brasil pada umumnya dan tentunya bolsa familia pada lebih khususnya, penulis mencoba mengkritisi isi atau substansi yang dijelaskan oleh Antony Hall mengenai hal tersebut. Dengan tidak mengurangi kekaguman pada paparan tulisan Antony Hall, penulis bermaksud untuk menggali lebih dalam mengenai program-program perlindungan social melalui kritik akan tulisan “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword?”.,.

Lalu pertanyaannya yang muncul ialah apakah pemaparan bolsa familia ini sepenuhnya dipaparkan secara jelas? Ataukah masih banyak kekurangan? Lalu apa itu kekurangan dalam artikel tersebut? Serta bagaimana kelebihan yang ditunjukkan dalam tulisan tersebut?

Tentunya critical review ini mengacu pada artikel yang ditulis oleh Antony Hall (2008) yang berjudul “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword?”. Dan menarik membahas mengenai bolsa familia ini dalam kaitannya melihat peran Negara sebagai actor dalam distribusi kesejahteraan. Sebab dalam realitanya Negara seringkali dianggap gagal dalam pendistribusian kesejahteraan dengan kenyataan masih tingginya angka ketimpangan antara masyarakat miskin dan kaya di beberapa Negara ataupun masih tingginya angka kemiskinan. Oleh sebab itu membahas mengenai bolsa familia sebagai program perlindungan social seakan-akan melihat realitas program perlindungan social di salah satu Negara, yakni Brasil termasuk kekurangan dan kelebihan sekaligus.

 

Kelebihan

 

            Artikel “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword? Yang ditulis oleh Antony Hall merupakan tulisan yang sangat menarik untuk dibaca. Pelayanan program social yang selama ini seringkali diasumsikan sebagai program yang hanya menghabiskan anggaran Negara dan lebih berorientasi kepada nilai-nilai politis sangat jelas dipaparkan dalam tulisan ini. Oleh sebab itu selanjutnya akan dijelaskan beberapa kelebihan dalam artikel karya Antony Hall dalam pembahasan kali ini.

Kelebihan pertama yang terdapat di dalam jurnal “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword? Ialah menyangkut dengan gaya penulisan dari Antony Hall yang sangat yang sangat komprehensif. Maksud dari komprehensif disini ialah bahwa penulis dalam memaparkan tentang program perlindungan social bolsa familia sangat rinci dan luas dan tentunya mudah dipahami oleh pembaca terutama para akademisi ataupun mahasiswa. Tentunya melihat arti dari kata kompherensif dari Kamus Besar Bahasa Indonesia yang menyebutkan bahwa setidaknya terdapat tiga definisi dari kata komprehensif tersebut, diantaranya ialah (1) bersifat mampu menangkap (menerima) dengan baik; 2 luas dan lengkap (tentang ruang lingkup atau isi); 3 mempunyai dan memperlihatkan wawasan yang luas. Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa tulisan Hall sangat menunjukkan ketiga aspek dari definisi komprehensif tersebut. Pertama mengenai pemaparan yang dapat diterima dengan baik oleh pembaca disebabkan oleh runtutnya penjelasan antar bagian sehingga arahan dari tulisan dapat dicerna dengan baik. Kedua juga mengenai ruang lingkup yang tidak hanya berbicara mengenai keberhasilan atau kesuksesan dari program bolsa familia saja, tetapi lebih dari itu sesuai dengan judul yang ditulis bahwa bolsa familia juga terdapat kekurangan yang mana diandaikan seperti pedang yang memiliki dua mata yang sama panjang. Hal ini tentunya dapat ditemukan pada kekurangan dari bolsa familia itu sendiri seperti kentalnya muatan politis akan suatu program perlindungan social dan juga tingkat ketergantungan yang dipaparkan di dalamnya.

Kelebihan yang lain ialah data yang dipaparkan juga sangat jelas dan sangat membantu dalam memahami pembaca akan maksud dari tulisan “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword. Tentunya data dalam hal ini sangat fungsional bagi pembaca, sebab dengan data yang jelas akan membuat tulisan lebih hidup. Dan tentunya alasan teknis lainnya ialah suatu kewajiban dalam penulisan ilmiah yang mana pemaparan suatu argument disertai dengan data yang akuntabel dan juga jelas baik dalam penyampaiannya maupun sumber rujukannya. Data di dalam tulisan “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword? ditunjukkan dalam berbagai bentuk macamnya. Seperti ditunjukkan dalam bentuk tabel, diagram maupun narasi dalam tulisan. Data-data mengenai penjelasan alokasi anggaran Brasil sendiri untuk pengeluaran perlindungan social, pengeluaran anggaran untuk bolsa familia ataupun data lainnya sangat dijelaskan secara jelas dan membantu dalam memahami efektifitas program bolsa familia maupun gambaran secara umum dan khusus akan program tersebut. Oleh sebab itu kelebihan yang selanjutnya dari tulisan ini ialah tentang pemaparan data.

Kelebihan lainnya yang juga ditunjukkan dalam tulisan ini ialah mengenai judul yang sangat menarik sebagai kesan pertama pembaca sebelum membaca tulisan ini. Dengan judul yang seakan-akan memecahkan opini dan asumsi sebagian besar orang mengenai bolsa familia membuat rasa penasaran akan tulisan ini tinggi. Hal ini tentunya sangat bagus dalam mengambil hati sebagian orang yang sepintas melihat judul dalam tulisan ini.

Selain kebelihan dari segi judul diatas, kelebihan yang terakhir ialah perdebatan yang ditampilkan dalam tulisan “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword? dipaparkan dan dijelaskan dengan gaya yang seakan-akan penulis mengajak pembaca untuk merasakan kegelisahan dalam tulisan tersebut. Dengan mengesampingkan kelebihan dari bolsa familia tersebut, penulis menyajikan kekurangan dan juga kebobrokan dari bolsa familia tersebut untuk menjadikan bahan sebagai argumen kuat untuk menopang judul dan tema yang telah diangkat. Tentunnya dengan perdebatan yang ditampilkan oleh Hall akan tarik ulur kelebihan dan kekurangan program bolsa familia membuat pembaca larut akan keadaan yang sebenarnya mengenai berbagai program perlindungan social yang ada. Hal semacam politisasi program ataupun ketergantungan yang tinggi akan program oleh masyarakat yang menjadi sasaran program menjadi argument penting dalam tulisan ini sebagai penentu arah perdebatan.

 

Kekurangan

 

            “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword? yang ditulis oleh Antony Hall merupakan karya tulisan yang sangat edukatif. Artinya tidak hanya melihat dari satu sisi dari bolsa familia saja, tetapi disamping hal tersebut Hall menunjukkan pula sisi-sisi hitam yang harus ditunjukkan kepada pembaca terutama. Bahwa opini-opini keberhasilan memang selama ini seringkali terdengar, tetapi Hall mencoba menggali hal di luar itu. Oleh sebab itu substansi dari “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword? sangat bagus.

Setelah sebelumnya membahas mengenai kelebihan dari “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword?yang ditulis oleh Antony Hall, maka pada sub bab ini akan dbahas mengenai kekurangan pada tulisan tersebut. Kekurangan tersebut akan disampaikan dalam bentuk kritik yang mana kritik tersebut berdasarkan perspektif subjektif dan dengan menggunakan teori atau argument para tokoh dalam kebijakan social untuk pendukung kritik yang dilancarkan. Kritik ataupun kekurangan yang ditulis diantaranya mengenai seperti mempertanyakan masalah argument dan alasan logis di balik argument penulis akan suatu topic.

Kekurangan yang pertama ialah mengenai pandangan subjektif saya yang kurang menemukan inti dari argumen utama Antony Hall dalam tulisan “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword?. Maksudnya adalah dengan judul yang mengangkat sisi buruk dan baik yang digambarkan sebagai bolsa familia diandaikan sebagai A Double-edged Sword, yang artinya pedang yang memiliki dua mata yang sama tajam tidak dapat ditemukan argument utama penulis dalam konteks arah dari tulisan ini. Maksud dari arah dari tulisan ini ialah penulis kurang mengemukakan argument utama dalam menilai bolsa familia ini. Berimbangnya prestasi dan juga masalah yang dialami oleh bolsa familia membuat pembaca juga menjadi bingung terhadap argument yang disampaikan dalam tulisan ini. Yang pada awal-awal dijelaskan mengenai prestasi dan sisi positifnya mengenai bolsa familia, lalu pada selanjutnya sisi negative tentunya berpengaruh pula pada pertanyaan argument yang ingin disampaikan penulis pada tulisan “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword?” lebih ke arah apa? Ataukah sifat dari tulisan ini hanya sebagai pembuka pengetahuan saja dan selebihnya pembaca yang menilai akan bolsa familia tersebut? Dua pertanyaan itulah yang ada difikiran saya setelah membaca tulisan ini.

Pada konklusi yang dipaparkan pada tulisan tersebut juga dikatakan bahwa 60 persen populasi yang seharusnya layak menerima tetapi tidak dapat menerima program perlindungan social tersebut, sehingga harus hidup dalam keadaan yang serba keterbatasan (Soares et al., 2007 dalam Hall 2008: 819). Pernyataan tersebut tentunya menjadi argument penting dalam sebuah tulisan yang mengangkat mengenai program-program perlindungan social. Sebab dari dahulu masalah utama program perlindungan social ialah tidak tepatnya sasaran akan penduduk yang ditargetkan. Tetapi yang menjadi kritik saya disini ialah alasan atau factor yang melatar belakangi argument yang mengatakan bahwa masih terdapat 60 persen populasi yang berhak yang belum menerima itu yang belum saya temukan. Tentunya menjadi kritik yang sangat penting tentang factor yang melatar belakangi realitas tersebut. Sebab dengan mengetahui latar belakang tersebut maka akan menentukan pula asumsi dari pembaca akan bolsa familia. Sebab yang dipaparkan sangat problematis antara kebaikan dan di satu sisi tentang negative dari bolsa familia. Dengan mengetahui latar belakang tersebut tentunya diharapkan akan mengubah pandangan pembaca. Misal jika kejadian yang mana masih banyak masyarakat yang berhak mendapatkan program perlindungan social tersebut tetapi belum menerimanya disebabkan oleh kesalahan data tentunya berbeda dengan tidak menerima disebabkan oleh factor-faktor politis lainnya. Sebab pada realitanya di Indonesia saja yang pernah saya amati di daerah tempat saya tinggal yaitu muatan politis masih kental di dalamnya. Seperti kepala desa setempat ataupun para stakeholder yang berhak mendistribusikan program perlindungan social tersebut menerapkan system selektif. Yang artinya oknum stakeholders tersebut menyeleksi para penerima berdasarkan suara ataupun partai politik yang dia dukung pada pemilu sebelumnya. Missal saja jika sebelumnya terdapat pemilihan kepala desa di daerah X, dan terdapat dua calon si A dan si B lalu si A memenangkan pemilu kepala desa tersebut serta salah satu masyarakat yang seharusnya berhak menerima menjadi simpatisan dari si B, maka bisa dipastikan orang tersebut susah dan sangat tidak mungkin menerima program perlindungan social tersebut. Oleh sebab itu argument mengenai 60 persen warga Negara yang berhak menerima tetapi belum menerima menjadi sebuah pernyataan penting yang harus didukung oleh data yang valid dan akurat sebagai alur antara factor dan tentunya pernyataan yang dimuat.

Kritik terakhir yang menjadi kritik saya ialah mengenai masalah-masalah pasca bolsa familia. Di dalam tulisan “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword?” saya kurang menemukan masalah yang ditimbulkan dan mungkin saja terdapat sampai sekarang mengenai pendistribusian program perlindungan social. Masalah yang dimaksud seperti bagaimana dampak akan relasi social antar masyarakat penerima dan non-penerima, adakah perbedaan ataukah bagaimana? Pertanyaan semacam itulah yang mana jawabannya belum saya temukan pada tulisan “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword?” Antony Hall ini. Masalah yang saya cermati ialah hanya mengenai ketergantungan penerima setelah program bolsa familia diluncurkan, tetapi masalah-masalah yang bersifat poal interaksi dan juga relasi kurang ditemukan.

Ketiga kritik tersebutlah yang dapat dipaparkan setelah membaca “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword”karya Antony Hall tersebut. Membicarakan mengenai program perlindungan social sendiri tentunya merupakan topic yang sangat problematis. Sebab pada banyak studi kasus dan tulisan mengenai program perlindungan social tentunya juga banyak ditemukan masalah-masalah yang dialami disamping manfaat yang juga didapat oleh masyarakat.

 

Saran

 

            Tentunya pada pembahasan ini sangat berkaitan dengan sub bab sebelumnya mengenai kekurangan dari “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword?”. Sebab dalam saran yang akan dipaparkan di dalam sub bab ini tentunya dilatar belakangi oleh kekurangan diatas. Dan saran ini tentunya juga tidak hanya bermanfaat untuk tulisan “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword?”, tetapi manfaat yang lain yang diterima tentunya menjadi bahan pembelajaran bagi saya pribadi dalam menulis mengenai kebijakan-kebijakan social ataupun lainnya.

Saran yang pertama tentunya ialah lebih menonjolkan argument utama dalam penulisan akademik. Contoh saja dalam tulisan yang pernah saya baca yaitu jurnal karya salah satu dosen departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Fisipol UGM yang berjudul “Jalan menuju kesejahteraan: Memahami miskinnya konsep kemiskinan” yang juga pernah saya tulis critical reviewnya sangat jelas argument mengenai konsep kemiskinan yang hanya berlandaskan satu dimensi saja, yaitu dimensi ekonomi. Padahal dibalik itu terdapat aspek penting yang harus dinilai dalam menentukan seseorang miskin atau tidak. Sama halnya dengan tulisan “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword”, seharusnya diberi argument kuat bahwa bolsa familia ini pedang yang sama-sama memiliki dua mata yang sama tajamnya yang diibaratkan dari sisi positif dan negative dari bolsa familia tersebut. Dan tentunya argument yang tidak kalah pentingnya yakni mengenai arah dari tulisan yang mana orientasi tulisan lebih ke arah mana juga tidak kalah pentinya, sebab hal ini tentunya juga akan mempengarhi asumsi dan pemahaman dari pembaca.

Saran yang lainnya ialah penjelasan mengenai masalah pasca didistribusikan bolsa familia juga tidak kalah pentingnya. Sebab hal ini dapat menguatkan argument dari penulis sendiri mengenai sisi buruk yang ditampilkan dari bolsa familia itu sendiri. Masalah yang dipaparkan juga seharusnya tidak hanya mengenai masalah teknis atau oprasionalnya saja seperti salah sasaran, data yang tidak akurat atapun yang lainnya, tetapi lebih kepada masalah-masalah social yang dialami oleh masyarakat. Konflik social ataupun pola perubahan relasi dan interaksi antar masyarakat juga dapat ditampilkan pada tulisan ini. Sebab pembaca tentunya ingin mengetahui apakah masalah pendistribusian program-program perlindungan social antar Negara sama ataukah berbeda juga menjadi pertanyaan yang sering muncul. Sebab dari beberapa realitanya pendistribusian CCT atau Conditional Cash Transfer seringkali banyak terjadi. Seperti konflik-konfilk social yang terkadang seringkali mengikutinya. Seperti sebut saja gesekan antara penerima dan non-penerima menjadi tidak bisa terhindarkan dan akibatnya yang awalnya program perlindungan social memiliki tujuan yang positif tetapi malah menimbulkan masalah-masalah yang juga serius.

Saran yang lainnya ialah mengenai keakuratan data juga tidak kalah pentingnya. Pada tulisan “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword? yang mana pada sub bab sebelumnya telah saya singgung mengenai 60 persen masyarakat yang seharusnya berhak menerima tetapi tidak menerima dan hidup dalam keadaan yang serba terbatas tidak didukung oleh argument dan alasan yang memadai. Padahal argument tentang 60 persent masyarakat penerima yang belum menerima tersebut menjadi penting untuk menilai tingkat keberhasilan dari program bolsa familia itu sendiri, tetapi sangat disayangkan kurang terdapatnya atau tidak terlihatnya alasan dibalik pernyataan tersebut. Oleh sebab itu data yang kuat dan tentunya argument yang akurat seharusnya ditambah pada pemabahasan atau pernyataan yang vital seperti conoth mengenai 60 persen masyarakat yang seharusnya berhak menerima tetapi tidak menerima dan hidup dalam keadaan yang serba terbatas tersebut.

 

Penutup

 

            Program perlindungan social tentunya memiliki urgensi yang sangat kuat dalam kehidupan di suatu Negara. Tidak hanya di satu Negara, di semua Negara di dunia disribusi kesejahteraan terhadap warga negaranya merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan. Kesejahteraan dapat dikatakan sebagai hak dan kewajiban, artinya di satu sisi merupakan hak warga Negara tanpa terkecuali, di satu sisi merupakan kewajiban Negara untuk menjamin kesejahteraan bagi setiap warga negaranya.

Bolsa Familia merupakan salah satu representasi program perlindungan social sebagai gambaran peran Negara dalam menjamin kelangsungan hidup warga negaranya. Negara pada posisi ini hadir sebagai actor siginfikan yang wajib mendistribusikan kebutuhan-kebutuhan dasar warga negaranya, seperti yang tercermin dalam bolsa familia ini yang lebih mengarah pada tiga aspek yakni pendidikan, pelayanan kesehatan dan pengelolaan dana pension (Brazil, 2005a, 2005b, IPEA, 2006a).

Tulisan Antony Hall yang berjudul “Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword? ditulis untuk melihat dua sisi dari program bolsa familia tersebut. Hall mencoba mempresentasikan sisi positif dan juga sisi negative dari program bolsa familia tersebut yang terdapat di brasil. Sebab opini Negara-negara di dunia telah menjadikan program perlindungan social bolsa familia ini sebagai representasi program perlindungan social berbasis Conditional Cash Transfer yang berhasil sehingga banyak Negara-negara yang mencoba menerapakan program serupa di negaranya seperti di Indonesia yang muncul Program Keluarga Harapan ataupun yang lainnya. Dibalik itu Hall juga menunjukkan kelemahan dari bolsa familia yang diandaikan sebagai pedang yang memiliki dua sisi yang sama panjang. Oleh sebab itu Hall menunjukkan sis negative dari program bolsa familia ini seperti sarat muatan politis ataupun membuat masyarakat memiliki rasa ketergantungan.

 

 

 

 

Referensi

 

Hall, Anthony. 2008. Brazil’s Bolsa Familia: A Double- Edged Sword. Developed and Change 39 (5): 799-822. Blackwell Publishing : Institute of Social Studies.

The world bank data. 2013. Brazil. Dapat diakses pada http://data.worldbank.org/country/brazil. Diakses pada 1 November 2016

Mathari, Rusdi. 2014. Kali ini mungkin tak perlu revolusi sampai mati. Artikel online dapat diakses di https://rusdimathari.com/2014/11/05/kali-ini-mungkin-tak-perlu-revolusi-sampai-mati/. Diakses pada pada 1 November 2016

Abel, C and C. Lewis. 2002. Exclusion and Engagement: Social policy in Latin America. London: Institute of Latin American Studies, University of London.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Online. 2012. Kompherensif. Dapat diakses di http://kbbi.web.id/komprehensif. Diakses pada 1 November 2016

Susetiawan. 2013. Jalan menuju kesejahteraan: Memahami miskinnya konsep kemiskinan. Yogyakarta: Azzagrafika.

Andersen, Gosta Esping. 1990. The Three Worlds of Welfare Capitalism. Cambridge : Polity Press.

Iklan

Tentang faridbudiono

Mahasiswa biasa-biasa saja dari kampus juga biasa-biasa saja serta berasal dari daerah yang biasa-biasa saja.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s